Monday, 5 August 2013

Kisah cicit cuit

Disebuah pedesaan yang subur terdapat sepasang burung yang bersahabat, citcit dan cuit. Mereka berdua hidup di sebuah pohon yang rindang dan hidup bahagia. Suatu saat seorang petani pemilik kebun dimana pohon itu tumbuh menanam sekuntum bunga. Tetapi karena Pohon yang rindang itu menutupi sinar matahari yang diharapkan dapat menyinari bunga itu, maka sang petani berpikir untuk menebang pohon tersebut.

Setelah berpikir matang-matang , maka hal itupun dilakukan. Setahap demi setahap sang petani menebang pohon rindang itu. Si cicit dan cuit berteriak-teriak karena sarang mereka tidak lama lagi akan roboh. Mereka saling berpelukan dan menangis, "bagaimana kita hidup nanti.. akan tinggal dimana kita nanti?". Teriakan mereka makin kencang seiring kencangnya kapak yang dihujamkan ke pohon rindang itu

Selang beberapa lama, tumbanglah pohon itu. Bersama dengan hancurnya rumah cicit dan cuit. Mereka pun sedih karena semua kebahagiaan mereka , kenangan mereka , tempat tinggal mereka lenyap dalam sekejap.

Satu minggu telah berlalu masa-masa meratap bagi sicicit dan cuit. Kemudia cicit pun mengambil keputusan untuk pergi dari tempatnya meratap mencari tempat baru untuk ia bisa tinggal dan hidup dari awal lagi. Sementara cuit memilih untuk tetap tinggal disitu.

Waktupun berlalu dan keadaan cicit mulai berubah, ia telah menemukan pohon baru untuk ia tinggali. Sekarang dia sudah bisa menikmati hidup yang baru, membangun sangkar baru , beranak cucu disitu. Sementara cicit masih tetap ditempat yang lama dan terus meratapi tanpa melakukan sesuatu apapun. Lama kelamaan cicitpun mati dengan luka dan pedih yang tak terobati

Seperti apakah keadaan kita selama ini ? Seperti cicit ataukah seperti cuit? Semua yang terjadi dalam hidup kita tidak ada yang kebetulan. Keberuntungan dan musibah Tuhan ijinkan untuk sebuah rencana yang indah dalam hidup kita. Renungkanlah , jika kita masih bisa bernafas, makan 3 kali sehari beraktivitas seperti orang normal itu adalah anugrah dari Tuhan. Sukuri dan jangan mengeluh, karena Tuhan memberi semuanya dengan kemurahan hati Nya. Dia melakukan semuanya dengan kasih dan tidak membeda-bedakan.

No comments: